Wakil Ketua DPRD Surabaya Dorong Generasi Muda Jadi Duta Kebenaran
Surabaya,CJ — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memberikan anggaran untuk mendukung kreativitas dan kegiatan positif anak-anak muda di setiap Rukun Warga (RW) pada tahun 2026. Setiap RW nantinya akan menerima Rp5 juta per bulan sebagai dana pembinaan bagi program kegiatan yang diinisiasi generasi muda.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Arif Fathoni, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis untuk menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan zaman, termasuk ancaman disrupsi informasi dan penyalahgunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“AI itu bisa menjadi penuntun, tapi juga bisa menjadi jembatan yang meruntuhkan kebhinekaan kalau disalahgunakan. Karena itu, salah satu cara menangkal hoaks dan disrupsi informasi adalah dengan meningkatkan literasi digital anak muda,” ungakap Arif Fathoni kepada awak media di ruang kerjanya.
Menurutnya, kondisi Surabaya yang relatif kondusif selama dinamika politik terakhir tidak boleh membuat lengah. Di masa depan, potensi penyalahgunaan teknologi digital, mulai dari manipulasi konten hingga penyebaran informasi palsu, bisa memicu konflik horizontal jika masyarakat tidak dibekali kemampuan literasi yang memadai.
“Anak muda ini pemimpin Surabaya hari esok. Tugas pemerintah bukan memaksakan, tapi meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka agar siap menghadapi tantangan zaman,” ungkap politisi yang akrab disapa Mas Toni tersebut.
Melalui anggaran Rp5 juta per RW, Pemkot Surabaya mendorong generasi muda, khususnya yang tergabung dalam Karang Taruna, untuk menjadi agent of truth atau duta kebenaran di lingkungannya masing-masing. Program ini diarahkan agar anak muda tidak mudah termakan hoaks dan terbiasa melakukan verifikasi sebelum menyebarkan informasi.
“Harapannya, lewat pelatihan-pelatihan ini tumbuh kesadaran kolektif warga, terutama anak muda, untuk ‘saring sebelum sharing’. Mereka bisa menjadi pelopor yang meluruskan informasi di tingkat RW,” terangnya.
Selain literasi digital, anggaran kepemudaan tersebut juga diarahkan untuk penguatan digital marketing, khususnya guna mendukung promosi UMKM di lingkungan sekitar. Arif Fathoni menegaskan bahwa anggaran ini bukan untuk modal usaha, melainkan untuk pembinaan berbasis peningkatan pengetahuan dan keterampilan.
“Pembinaan itu bukan berarti diberi modal Rp5 juta lalu disuruh buka warung. Yang paling penting adalah peningkatan skill dan pengalaman. Anak muda sekarang tidak bisa lepas dari gadget. Daripada dipakai untuk pinjol atau judol, lebih baik diarahkan ke hal positif,” katanya.
Dengan menghadirkan pakar digital branding dan digital marketing, pemuda di tingkat RW diharapkan mampu membantu mempromosikan produk UMKM lokal melalui platform digital. Hal ini dinilai lebih berkelanjutan karena membekali anak muda dengan keahlian yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
“Paling tidak, ada pemuda di RW yang bisa membantu UMKM setempat naik kelas lewat pemasaran digital. Ini bentuk pemberdayaan yang nyata,” imbuhnya.
Arif Fathoni menyebut, pelaksanaan program dapat dilakukan secara bertahap. Misalnya, bulan pertama difokuskan pada penguatan literasi digital, bulan berikutnya pada digital marketing, lalu disesuaikan dengan kebutuhan lokal di tahap selanjutnya.
Gagasan ini, lanjutnya, sejalan dengan visi Wali Kota Surabaya dalam membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter di tengah pesatnya perkembangan teknologi. “Intinya, anggaran Rp5 juta per RW ini harus memberi dampak. Anak muda Surabaya kita siapkan menjadi pelopor, agen kebenaran, dan motor penggerak ekonomi lokal,” pungkasnya. ADV/DN
