Surabaya,CJ – Ratusan jagal dan pedagang daging yang beraktivitas di Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirikan menggelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pemindahan (relokasi) RPH Pegirikan ke kawasan Tambak Oso Wilangon (TOW).
Dalam Aksi para jaga dan pedagang daging di RPH Surabaya membuat heboh publik setelah massa membawa truk bermuatan sapi hidup dan menurunkan seekor sapi berukuran besar tepat di depan gedung parlemen. Suasana sempat memanas ketika orator menyampaikan ancaman akan menyembelih sapi di lokasi sebagai bentuk protes simbolik.
Salah satu orator aksi, Kukuh, menegaskan RPH Pegirian bukan sekadar tempat kerja, melainkan ruang hidup yang telah menopang ekonomi para jagal selama puluhan tahun.
“RPH Pegirian adalah nyawa kami. Kalau dipindah, sama saja mematikan penghidupan kami. Jangan paksa kami menyembelih sapi di depan gedung ini,” teriak Kukuh di atas mobil komando.
Ia juga mendesak anggota DPRD Surabaya segera menemui massa. Bahkan, Kukuh melontarkan ultimatum jika tuntutan mereka tak direspons. “Kalau dewan tidak keluar menemui kami, maka kami yang akan masuk bersama sapi-sapi ini,” tegasnya.
Dijaga kegetat aparat kepolisian dengan satu unit water cannon disiagakan untuk mengantisipasi potensi kericuhan. Meski sempat terjadi dorong-dorongan kecil saat massa merangsek ke halaman gedung DPRD, situasi berhasil dikendalikan melalui koordinasi antara koordinator lapangan dan aparat keamanan.
Sementara Koordinator Lapangan Aksi, Abdullah Mansyur, mengatakan para jagal selama ini tidak pernah diajak berdiskusi terkait rencana pemindahan RPH. Ia menyebut, para pekerja justru dikejutkan dengan terbitnya surat edaran yang mewajibkan pendaftaran relokasi.
“Kita sudah beberapa kali ditemui dan diajak bicara audiensi, tapi kenyataannya tidak berpihak kepada kami. Terakhir katanya mau difasilitasi untuk mencari solusi terbaik, tapi nyatanya kami dikagetkan dengan surat edaran yang memaksa kami pindah dari RPH Pegirikan ke Tambak Oso Wilangon,” ujar Abdullah.
Menurutnya, relokasi RPH berpotensi menimbulkan dampak serius, terutama terhadap keberlangsungan usaha dan tenaga kerja di sektor pemotongan hewan. Ia mengkhawatirkan banyak prajagal dan karyawan akan kehilangan pekerjaan jika pemindahan tetap dipaksakan.
“Kalau RPH ini dipindah, kami pastikan prajagal, karyawan, dan pedagang daging sapi se-Kota Surabaya bisa menjadi pengangguran. Bahkan sekarang saja sudah ada karyawan yang tidak mau lagi beraktivitas di RPH,” katanya.
Selain persoalan tenaga kerja, Abdullah juga menyoroti potensi lonjakan biaya operasional akibat jarak tempuh yang lebih jauh menuju lokasi RPH yang baru.
“Kami sudah menghitung, kalau dipaksa pindah ke RPH yang baru akan terjadi penambahan biaya. Ini sangat merugikan para jagal dan pedagang daging sapi se-Kota Surabaya,” ujarnya.
Dalam tuntutannya, para jagal meminta DPRD Kota Surabaya membatalkan rencana pemindahan RPH Pegirikan serta mencabut surat edaran pendaftaran relokasi. Mereka juga mengingatkan akan melakukan aksi lanjutan jika aspirasi tersebut tidak mendapat kejelasan.
“Kalau tuntutan kami tidak dipenuhi, satu bulan, dua bulan, bahkan setahun pun kami siap mogok kerja. Ini menjadi alarm bagi stabilitas ekonomi, khususnya pasokan daging sapi,” tegas Abdullah. DN
