Surabaya,CJ – Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan pembangunan drainase dalam hal upaya untuk mengatasi banjir di Surabaya pada musim penghujan. Namun faktanya banyak drainase di kota setempat yang tidak terawat sehingga muncul genangan saat musim hujan.
Hal itu diungkapkan Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya Achmad Nurdjayanto, ia mengatakan ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah kota untuk memperkuat kesiapan menghadapi musim hujan.
Politisi yang akrab disapa cak Achmad menjelaskan genangan kali ini justru lebih parah dibanding hujan di awal tahun. Sehingga, menjadi alarm bagi Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Surabaya segera melakukan evaluasi besar-besaran.
“Ini peringatan bagi kesiapan Pemkot Surabaya khususnya dalam penanganan drainase di awal musim hujan,” ungkap Cak Achmad, selasa (4/11/2025).
Ia mengatakan pemerintah tidak boleh tinggal diam dimana semua titik sumbatan dan saluran yang menjadi biang genangan harus segera dinormalisasi.
“Sumbatan-sumbatan di titik genangan harus segera dibersihkan. Saya lihat, hujan kali ini lebih berdampak dibanding awal tahun,” katanya.
Achmad menyoroti kawasan Asemrowo di Surabaya Barat yang masih menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras mengguyur. Ia menyebut, karakteristik wilayah itu yang jauh dari badan sungai membuat sistem pembuangan air harus benar-benar sempurna tanpa hambatan.
“Normalisasi harus menyeluruh, mulai dari Tanjungsari, Simorejo Sari, Tambak Mayor, hingga Asem Mulya. Aliran airnya harus lancar,” terangnya.
Cak Achmad menilai proyek drainase yang sudah dibangun namun tidak berfungsi optimal salah satunya, drainase di kawasan Asem Mulya yang seharusnya menjadi penopang utama aliran primer untuk mengurangi genangan.
“Jangan sampai kita bangun gorong-gorong mahal tapi perawatannya setengah hati,” katanya.
Cak Achmad juga mengusulkan pembuatan drainase baru di sisi utara rel kereta api, khususnya di kawasan Tambak Mayor karena saluran ini bisa menjadi pemecah arus air hujan agar tidak menumpuk di satu titik.
“Air dari Tambak Pring Barat dan Tambak Lumpang bisa dialirkan lurus di sepanjang rel KA, menembus persilangan bawah tol hingga ke Jalan Raya Dupak,” ujarnya.
Dengan sistem itu, air tidak lagi harus berbelok yang justru menambah beban volume ke wilayah lain seperti Tambak Pring Timur dan Tambak Dalam.
“Ini solusi agar air tidak menambah beban di titik lain,” katanya.
Achmad juga mengingatkan Pemkot agar tidak menunggu banjir datang karena kegiatan mitigasi dan pembersihan saluran harus dilakukan sebelum curah hujan semakin tinggi.
“Sebelum musim hujan, titik-titik genangan dan sumbatan harus dibersihkan. Termasuk ranting pohon yang rawan tumbang juga perlu diantisipasi,” pungkasnya. ADV/DN
